Address of the new blog


Assalamua’laikum

This is my new blog address:

http://zuhairizainuddin.blogspot.com

The new blog shall be fully in Malay. I don’t plan to mix up with English posts yet. The new entry shall be posted soon insyaAllah.

Have a visit, may Allah bless you. Wassalamua’laikum. :)

The LAST POST in “A Muslim Got To Do What A Muslim Got To Do”


Assalamua’laikum to all of you.

This is my last post ever for this friendster blog. I will be moving out to a new blog soon, and the new address shall be announced later insyaAllah.

So as a final tribute to this blog, I would like to recommend 10 of the posts which I preferred the most since I started writing here in 2005. If you disagree with this list of mine, you can always recommend the ones of your preference -well, if you do have any. (Who am I to be expecting you to read through all my posts anyway, I am not a scholar.)

Thank you for all your support!

________________________________________________________________

MOOJAHEED’S SELECTION (just click if you want to read them):

“Ukhwah Fillah Abadan Abada”

“Mari Amal Islam Ikut Cara Nabi- Part 1″

“Bagaimana Dapat Membaca Bahan Ilmiah Dengan Efektif Dan Produktif”

“Beberapa perspektif tentang adab-adab menyertai jemaah Islamiah”

“Tentang doa”

“Muslimahism: Kenapa tidak?”

“Saya Nak Cerita Sedikit Tentang Psikologi dan Islam”

“Studying For Exams?”

“7 Principles of Good Effort”

“Menepis Atheism: Bahaya Bertuhankan Sains”- (Part 1) (Part 2)

_______________________________________________________________

That’s all from here brother and sisters. Looking forward to see you in the other blog. May Allah bless.

Wassalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh!

The Battle Within Us


Ahmad was walking down on one of the main streets in a busy city when he saw a very beautiful lady in front of him. Not only that the lady was very beautiful, she also did not cover her aurah very well. This created an unpleasant yet tempting display directly in front of Ahmad’s view. As he’s a male, it is usual for an evil thought to automatically appear in his mind, persuading him to take a closer look at the lady. Obviously, we know that shaitan and nafs are the ones responsible for the establishment of evil thoughts in humans.

However, the sunnatullah set in, as Ahmad’s conscience soon also appeared in his mind. The appearance of his conscience, plus his understanding of the good and bad from the Quran and Sunnah, made him to pause his current evil intention and ponder for a while.

Ahmad realized that he was in just yet another battle of the mind.

This is the key event of the story. This is a battle not visible to the physical eyes, but is vivid enough in the “eyes” of a pure soul; the kind of soul present within people who have great faith in Allah. Good news, we can always be one of these people, it’s always our choice to be so.

Back to the story.

Now it’s up to Ahmad whether to follow the evil thoughts or to follow what Allah wants him -in fact, all of us- to do; doing good and avoiding evil! Ahmad chose to follow his conscience, a more challenging choice but obviously the wiser one. He knew that to take a closer look at the lady is a sin, and of course this is not what Allah wants him and every human to do. Moreover, he understood that this life is only a test and his actions will be judged accordingly in the akhirah.

This Islamically rational thinking process, in addition to his determination and willpower, made Ahmad to take the right action which was to walk away from the scene as quickly as possible.

Alhamdulillah, a few minutes later the evil thought disappeared. It was brought down by his rightful conscience and strong willpower guided by the help from Allah. Indeed, Allah will help those who help themselves.

Thus, the good defeated the bad, in such a battle of the mind, that always occur within all human beings whether they realize it or not.

The case scenario depicted above is just a to illustrate what our minds go through everyday. I believe all of us have our very own mind battles.

The mind battle I’m referring to is not about intelligence or examinations. I’m highlighting the mind battle between good and evil. This is not about IQ, but this is about EQ and SQ; or rather some experts refer it as ESQ since EQ and SQ often go together.

Whether it’s about getting up early to perform Fajr (or subuh) prayer in the masjid, or trying to control our anger when someone irritates us, or in whatever situations that demand us to choose between doing good or bad, we are actually in such a battle. Failure to realize the existence of this battle occurring within ourselves may make us to take the wrong path and the evil side will win.

Therefore always remember that you will and are always be in this battle as long as you live. You are responsible to choose and take the right action -the good action. Understand and learn carefully what is good and what is evil according to Islam, not simply to decide based on our rational understanding of morality, as our rationality is not free from error. History tells us that human understanding of moral value can easily be manipulated; we’ve had enough of nazism, zionism, sekularism and many other “diseased” philosophy. That is why the best guidance of what is good or bad always come from Allah, our Creator, and in fact as muslims we all know that the judgment of good and bad in the Akhirah will be based on the revelations of Allah (Quran and Sunnah), not based on human laws and thinking.

I’ll give one example of how our conscience can easily be manipulated. Some people think gossiping is acceptable as they say “we are just talking about true stories, not making up false stories”. If only they read surah Al-Hujurat, or learn the Akhlaq of the Prophet and His companions, they will know that gossiping is always a sin. The same dangerous rationality also runs in those who think that the wearing of hijab (or tudung) in muslim females is “not compulsary” and “useless if the ones wearing them do not have a pure heart”. So it is clear now that to develop an Islamic and a purely healthy conscience, we need to learn Islam carefully as a whole.

May this humble reminder benefits all of us.

Rempit: Salah siapa?


Bayangkan sedang anda berjalan-jalan di ibukota, tiba-tiba datang sekumpulan golongan muda bermotosikal yang begitu ramai sekali, kira-kira 20 orang, datang menyerbu anda. Kemudian mereka membelasah anda tanpa sebab, lalu mencuri segala barangan yang boleh dicuri sekalipun dalam beg duit anda hanya ada sedikit saja wang. Setelah puas, mereka berlalu pergi dan meninggalkan anda terpinga-pinga.

Ini satu keadaan yang sangat melampaui batas. Ini merompak namanya, bukan lagi mencuri.

Saya terkejut apabila terbaca laporan dalam harian Metro yang menyebut antara mangsa-mangsa pukul dan rompak ini termasuklah nenek yang sudah tua dan seorang wanita kurang upaya. Astaghfirullah, semoga Allah ampunkan kita semua, ke manakah hilangnya nilai kemanusiaan?

Malangnya, antara kita ada yang hanya suka menuding jari. Disalahkan ibubapa, institusi pendidikan, kerajaan, pihak polis atau pihak-pihak yang lain.

Saya tak nafikan memanglah logik jika dikatakan elemen-elemen di atas ini antara sebab yang menyumbang kepada budaya rempit ini. Tapi satu isu yang ingin saya utarakan di sini ialah kita selalu lupa, apakah kita ini tidak berperanan dalam berlakunya masalah ini? Apakah mungkin kita juga antara faktor-faktornya?

Saya kata, YA; walaupun secara tidak langsung.

Sebabnya, kita tidak mengamalkan sikap nasihat menasihati sesama muslim dan tidak sensitif dengan kemelesetan umat. Ketika umat Islam sedang diancam dari segi fizikal dan moral, kita buat tak tahu saja.  Ini satu kealpaan yang sangat besar, sedangkan kita sedia maklum betapa banyaknya nas-nas yang menyebut tentang tuntutan untuk mengamalkan sikap nasihat-menasihati ini.

Kita tidak cuba mengambil tindakan dalam usaha menyampaikan mesej dakwah Islamiah. Kita menyerahkan peranan penyampaian mesej Islam hanya kepada para ustaz dan jabatan agama, sedangkan Allah menyuruh setiap orang beriman saling berpesan dengan satu yang lain, mengikut kemampuan yang kita miliki.

Maknanya, jika sesuatu kemungkaran sedang berlaku dalam kapasiti kita untuk membantu membetulkannya, maka kita mesti cuba merangka tindakan untuk cuba mengatasi masalah tersebut, bukannya cukup dengan memandang dan mengutuk dari belakang.

Walaupun saya ada mengatakan tadi bahawa kita harus melakukan usaha dakwah sesuai dengan kemampuan kita, tapi itu tidak bermaksud kita boleh ambil mudah dan bersikap lepas tangan. Sebenarnya jika kita teliti betul-betul ramai daripada umat Islam pada hari ini sedang berada dalam kemampuan untuk memperbetulkan kemungkaran di sekeliling mereka, paling kurang pun dengan menunjukkan contoh tauladan yang baik kepada masyarakat, tapi mereka sengaja memilih untuk tidak melakukannya.

Satu sebab lain yang menyumbang gejala negatif golongan muda ialah kerana ada prinsip negatif dalam masyarakat kita yang berbunyi seperti “Jangan ditegur anak orang lain!” atau kerana prinsip “Jangan kau tegur anak aku, tahulah aku nak jaga dia!”. Inilah contoh pemikiran “aku-aku, kau-kau”, satu jenis pemikiran tertutup mementingkan diri sendiri sekaligus menghalang proses peningkatan dan perubahan dalam komuniti. Dukacita sekali, pemikiran seperti ini banyak berlaku dalam masyarakat kita.

Demikian juga ada ibubapa yang tidak tegas dalam mendidik anak-anak mereka, atau ibubapa sendiri menghadapi masalah rumahtangga menyebabkan proses didikan anak-anak pun jadi bermasalah. Akhirnya, seorang anak yang berasa tertekan kerana kurang diberi perhatian, mencari perhatian di luar rumah bersama kawan-kawannya. Secara psikologi, memang ada disebut antara sebab sesuatu tindakan jenayah atau samseng dilakukan adalah kerana si pelaku tersebut ingin mencari perhatian orang ramai, kerana dia dahulunya kurang mendapat perhatian.

Selain itu, sepertimana sedia maklum terdapat juga pengaruh media dan internet yang tidak terkawal menyebabkan golongan muda mudah terpengaruh. Kita sendiri dapat perhatikan trend budaya negatif golongan muda semakin menjadi-jadi apabila akses kepada internet makin meluas.

Banyak lagi sebab-sebab yang lain, saya rasa anda boleh fikirkan sendiri jika diteliti betul-betul.

Pendek kata. Apa yang ingin saya tekankan dalam penulisan ini ialah jangan lekas menyalahkan budaya rempit sebagai salah mat rempit sahaja. Buka mata luas-luas dan analisa situasi ini dengan teliti dan adil. Kita akan menemui begitu banyak sekali penyumbang-penyumbang lain yang datang “menghantui” golongan muda sehingga menyebabkan lahirnya mat-mat rempit ini.

Setelah mengenal pasti semua faktor-faktor, barulah kita dapat kenal pasti cara terbaik untuk mengatasi masalah ini. Sudah tentu tidak cukup dengan hanya menghukum penjenayah atau mendidik mat-mat rempit ini saja, tapi kita juga harus memperbetulkan faktor-faktor penyumbang yang lain yang telah disebutkan di atas. Ibubapa harus dididik, demikian juga media dan internet harus dikawal.

Pendek kata, pengawalan sesuatu permasalahan dalam komuniti mestilah sentiasa berbentuk komprehensif, sebab masalah sebegini sering merupakan masalah multifaktorial.

Akhirkata, saya ulangi lagi meskipun sudah disebut banyak kali dalam entri-entri sudah, bahawa Islam mementingkan manfaat kepada komuniti berbanding kepuasan individu. Lebih baik seorang muslim keluar mengedarkan risalah Islam, terlibat dengan aktiviti sukarelawan atau mengarang buku-buku agama, berbanding seorang muslim yang asyik beribadah siang dan malam. Setiap muslim harus menjadi ahli masyarakat yang aktif dan bermanfaat untuk komunitinya.

Prinsip kita, biar diri bersusah-payah asalkan Islam tertegak dan umat sejahtera. Keseronokan idaman kita hanya pada syurga Ilahi yang hakiki. Amin.

Bagaimanakah cara untuk meningkatkan kemampuan minda?


Kita selalu sibuk berbicara tentang bagaimana untuk melatih tubuh badan agar lebih kuat dan sihat.

Tapi ramai antara kita tak sedar sebenarnya minda kita pun perlu dilatih supaya menjadi lebih tajam dan efisyen. Mahu tahu caranya? Teruskan membaca.

Sebelum bermula, perlu kita tahu terdapat satu mitos tentang otak. Otak kita dikatakan “makin kurang tajam apabila usia makin meningkat”. Ini adalah satu andaian sahaja, malah otak kita boleh menjadi lebih tajam apabila usia makin meningkat. Ini boleh terjadi jika otak kita selalu dilatih.

Kajian di University Carnegie mendapati, selepas beberapa orang sukarelawan mengikuti program melatih otak sejam setiap hari, 3 hari seminggu untuk 3 semester, kemampuan mereka mengingat telah meningkat dengan drastik. Sebelum mengikuti program, sepertimana majoriti pelajar lain mereka hanya mampu mengingat 15% sahaja isi pengajaran di kuliah. Selepas ikuti program, kemampuan mereka mengingat pengajaran kuliah meningkat ke 80%. Begitu juga terdapat peningkatan drastik tentang kemampuan mengingat dalam berbagai lagi aspek-aspek lain. Jelaslah bahawa prestasi otak kita memang mampu ditingkatkan dengan banyak melatihnya.

Bagaimanakah hendak melatih atau meningkatkan prestasi otak?

  1. Banyak membaca dan menghafal. Kajian telah menunjukkan bahawa apabila seseorang itu makin banyak menghafal dan menambah ilmu, kualiti dan cara dia berfikir pun meningkat. Ini akan lebih berkesan jika dia mempelbagaikan pembacaannya dalam berbagai-bagai bidang ilmu. Menghafal Al-Quran dan mempelajari bahasa asing adalah contoh-contoh yang bagus. Apabila seseorang banyak menghafal dan belajar benda baru, hubungan sinaps dan neuron di dalam otak akan makin bercambah-cambah, justeru menyebabkan dia dapat berfikir dan mengingat dengan lebih luas dan tajam.
  2. Bermain permainan yang mencabar minda. Contoh yang baik adalah SUDOKU. Kajian telah menunjukkan bahawa permainan SUDOKU melatih banyak aspek aktiviti otak, terutamanya pemikiran visual, rasional, numerik dan emosional. Apabila otak kita banyak menjalankan fungsi-fungsi seperti ini, kualiti perhubungan sel-sel saraf pada bahagian itu akan meningkat. Akhirnya, kemampuan pemikiran visual, rasional, numerik dan emosional turut akan mengalami peningkatan. Selain SUDOKU, otak juga boleh dilatih dengan percubaan menjawab soalan-soalan ujian IQ. Saya akan sertakan beberapa latihan soalan IQ untuk kita cuba di penghujung penulisan ini.
  3. Diet yang cukup. Otak kita perlukan “makanan”. Pastikan diet anda mengandungi banyak protein dan vitamin. Ini adalah khasiat penting untuk pemeliharaan dan tumbesaran otak. Protein terdapat dengan banyak dalam ikan, dan vitamin pula banyak terdapat dalam sayur-sayuran, buah-buahan dan hati. Sebelum melakukan sebarang aktiviti berfikir, seperti belajar, menjawab peperiksaan dan sebagainya, satu tip yang bagus ialah cuba menikmati benda-benda manis terlebih dahulu (tapi jangan banyak sangat pula), kerana otak bakal memerlukan bekalan glukosa yang secukupnya semasa proses pemikiran atau pembelajaran berlangsung.
  4. Awas stress! Stress, tekanan perasaan ataupun mood yang tidak baik akan mengurangkan kemampuan minda anda. Ini kerana apabila anda sedang tertekan atau marah, paras hormon kortisol dalam darah akan meningkat. Hormon ini menyebabkan kemampuan minda anda merosot sehingga 40%. Inilah antara hikmah apabila Rasulullah s.a.w pernah berpesan: “Jangan engkau marah, jangan engkau marah, jangan engkau marah”.
  5. Pengaruh suhu dan haba. Tahukah anda bahawa peningkatan suhu otak dengan sebanyak hanya 1 darjah celcius sudah mampu menurunkan prestasi otak dengan signifikan? Hasil kajian sains daripada jabatan pertahanan Amerika Syarikat mendapati suhu yang panas dengan kelembapan tinggi (seperti cuaca di Malaysia) boleh merendahkan kemampuan intelek dan fizikal secara dramatik. Ini makin diterukkan lagi dengan kenyataan bahawa jika cuaca panas, mood kita pun boleh jadi tidak baik, maka ini akan merendahkan lagi prestasi otak. Untuk mengelakkan kejadian seperti ini, pastikan suasana bekerja atau belajar anda sentiasa selesa, nyaman dan tidak berbahang.
  6. Tidur mesti cukup dan teratur. Tidur adalah masa baikpulih untuk otak selepas ia penat bekerja. Semasa otak sedang berehat, ketika inilah proses pembaikian, tumbesaran dan penghubungan saraf banyak berlaku. Jika tidur tidak cukup dan tidak menentu, sudah tentu proses ini akan terbantut. Tidak ada ketetapan tentang berapa lama seseorang itu patut tidur, sebenarnya ini bergantung kepada individu. Secara purata, orang-orang dewasa perlu tidur antara 4 jam hingga 6 jam setiap hari. Jika ingin lakukan qiamullail, maka tidurlah lebih awal sedikit. Jangan jadikan qiamullail sebagai alasan untuk tidak cukup tidur.
  7. Kenalpasti waktu maksimum otak anda berfungsi dengan paling baik. Umumnya, setiap orang akan dikategorikan sebagai orang pagi (morning person), orang tengahari/petang (afternoon person) atau orang malam (night person).  Contohnya, jika anda rasa anda dapat belajar dan fokus yang lebih di waktu pagi, maka anda adalah orang pagi. Tekniknya di sini, jika anda hendak melakukan kerja yang melibatkan banyak pemikiran (belajar, membuat keputusan, perbincangan ilmiah dan lain-lain), maka lakukanlah kerja sedemikian pada waktu otak anda paling baik berfungsi. Kemudian pada waktu-waktu lain, anda boleh lakukan kerja-kerja rutin yang kurang melibatkan daya berfikir seperti membasuh pakaian, berjumpa kawan, bersenam dan sebagainya.
  8. Senaman yang rutin. Maksud senaman rutin di sini ialah bersenam sekurang-kurangnya 3 sesi seminggu, dengan setiap sesi berlangsung selama kira-kira 30 minit. Apabila kita bersenam, kita akan meningkatkan perjalanan darah dan penghantaran glukosa serta oksigen ke seluruh badan, termasuklah otak. Ini membantu proses perkembangan otak. Selain itu, senaman juga menyebabkan tubuh menghasilkan hormon endorphin, sejenis hormon yang bertindak ke atas otak bagi menghasilkan keceriaan dan mood yang baik. Pendek kata, benar sangatlah kata-kata “badan cergas minda cerdas”.
  9. Awasi hal-hal berikut: rokok dan kafein. Semua orang jelas merokok memang membahayakan kesihatan dan telah difatwakan haram oleh majoriti institusi fatwa termasuk negara kita. Tapi tentang kafein, ramai orang yang tidak sedar akan bahayanya. Kafein banyak terdapat dalam kopi, tapi terdapat juga sedikit dalam teh. Kafein berfungsi untuk meningkatkan kesedaran otak, justeru dapat mencegah rasa mengantuk. Malangnya ianya tidaklah begitu efektif, kesannya sebentar sahaja. Buah epal sebenarnya lebih berkesan berbanding kopi untuk mencegah rasa mengantuk. Jika selalu bergantung kepada kopi untuk kekal berjaga, maka anda akan berisiko untuk mengalami pengurangan dari segi kualiti tidur dan kualiti memori.
  10. Rajinkan beribadah dan jagalah hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah dan hubungan dengan Allah s.w.t. yang baik akan memudahkan pengawalan emosi. Banyak kajian di sektor korporat mendapati, pengurus yang mempunyai ESQ (emotional spiritual quotient) yang baik lebih banyak membuat keputusan yang tepat berbanding pengurus yang hanya mempunyai IQ yang tinggi. Ini kerana dengan hati yang tenang dan takutkan Allah, emosi akan jadi terkawal, maka pemikiran rasional akan menjadi lebih berkesan dan konsisten. Sebab itulah di kala kecemasan atau ketika berdebar-debar ketika menjawab peperiksaan, kita selalu dinasihati supaya bertenang kerana sikap panik akan menyebabkan keputusan dan tindakan kita jadi terburu-buru, justeru lebih tinggilah kebarangkaliannya untuk tersilap.

Kesimpulannya, minda kita dapat ditingkatkan dengan selalu menggunakannya, tahu cara menjaganya dengan baik dan pengawalan emosi.

Di sini saya sertakan beberapa contoh soalan IQ sebagai cara untuk kita melatih minda kita. Banyak kajian neurologi dan psikologi -yang tak dapat saya tuliskan semuanya di sini dengan teliti- telah menunjukkan, lagi banyak kita melatih minda kita, semakin tajamlah ia nanti. InsyaAllah. Anda boleh memberikan jawapannya dalam ruangan komen di bawah. Jawapannya pun akan saya sertakan kemudian dalam ruangan komen juga.

SOALAN IQ UNTUK ANDA

  1. Tiga orang pengembara di padang pasir bercadang untuk berpisah dan mengembara sendiri-sendiri. Berada bersama mereka ialah 21 botol air, yang mana 7 daripadanya penuh, 7 daripadanya separuh penuh dan 7 yang lain kosong. Mereka bercadang untuk membahagikan air dan 21 botol air tersebut dengan adil sesama mereka. Bagaimanakah mereka boleh berbuat demikian?
  2. Satu peti besar mengandungi 2 peti kecil.  Setiap 2 peti kecil ini mengandungi 3 peti lebih  kecil lagi di dalamnya. Dalam setiap 3 peti yang lebih kecil ini ada lagi 4 peti yang paling kecil di dalamnya. Hanya satu sahaja daripada peti yang paling kecil ini mengandungi emas. Berapa banyak petikah yang harus anda buka untuk anda betul-betul pasti bahawa peti tersebut mengandungi emas yang dicari?
  3. Seorang pelanggan restoran mewah telah menunggu selama 43 minit untuk diambil pesanan. Akhirnya, dia bangun dan ingin keluar dari restoran. Penjaga pintu restoran bertanya sudahkah si pelanggan ini membayar bilnya? Dia menjawab “tidak”, dan kemudian dia terus menulis satu memo untuk diserahkan kepada pengurus restoran. Memo ini bertulis: “10004180204″. Apakah maksud memo ini?
  4. Sebuah penutup botol berharga 1/10 daripada harga botolnya. Harga jumlah penutup botol bersama botolnya sekali ialah RM2.20. Berapakah harga botol tersebut?

Selamat menjawab. Wallahu a’lam.

10 nasihat untuk kita semua


Sekadar ingin memberikan beberapa nasihat untuk jiwa-jiwa muslim sekalian, termasuk diri saya sendiri. Saya berharap ini menjadi satu peringatan yang baik untuk kita semua.

  1. Sembunyikanlah amal anda kerana itulah cara mudah memperolehi niat yang ikhlas. Kemaskan wajah yang tampak kurang tidur kerana bangun qiamullail, jangan tunjukkan keletihan kerana sedang berpuasa, jangan biar orang tahu bahawa anda kuat bersedekah dan sebagainya. Pengecualian hanya satu iaitu apabila anda ingin menunjukkan contoh tauladan agar orang lain dapat mengikuti bersama. Maka bolehlah diceritakan amalan anda dengan nada yang mengajak orang lain menyertai anda; bukan dengan memberitahu amal anda kepada mereka.
  2. Ikutilah ajaran Rasullullah dengan segenap hati. Maksud saya di sini ialah kita harus rajin meneliti amalan Rasulullah, cara ibadahnya, cara berkomunikasinya, apa yang beliau galakkan dan apa yang beliau benci. Pelajari dan hayatilah akhlak baginda yang mulia dan amalkanlah, bahkan akhlak nabi itu ialah Al-Quran sepertimana disebut oleh Aisyah r.a.  Hafalkanlah hadith-hadith yang sahih, fahami dan amalkanlah. Piawai bagi segala amalan kita, buruk atau baik, terletak berdasarkan contoh yang ditunjukkan Rasulullah. Cinta kepada Rasul tidak sempurna jika kita tidak berusaha bersungguh-sungguh untuk ikut ajaran baginda.
  3. Tebarkanlah kebaikan di mana jua anda berada. Saudara saya yang saya cintai sekalian, berapa banyaknya tangan-tangan yang menginginkan bantuan, betapa banyaknya tandas-tandas di masjid yang masih kotor dan perlu dibersihkan, betapa ramainya non-muslim yang belum jelas tentang apa itu Islam, pendek kata betapa banyaknya peluang-peluang besar untuk kita beramal soleh di luar sana! Ayuh jangan kita berlengah lagi.
  4. Masa lebih berharga dari emas, kerana emas boleh dibeli sedangkan masa pula tidak boleh. Oleh itu setiap saat yang datang mesti kita gunakan sebaiknya. Berlengah-lengah bukan sikap seorang muslim/muslimah, kerana dia sepatutnya sedar bahawa maut boleh datang bila-bila masa sahaja.
  5. Lebih baik mati daripada melakukan dosa. Ini satu ungkapan yang saya petik daripada Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni. Saya kira hujah utama beliau di sini ialah beliau cuba memaksudkan segala dosa itu haruslah kita takut untuk melakukannya, betapa kecil pun ia. Melawan hawa nafsu adalah satu bentuk jihad.
  6. Belajar, belajar dan belajarlah hingga mati. Saudara, akal adalah satu amanah Allah yang besar. Inilah kurniaan Allah yang melayakkan kita sebagai khalifah atau pentadbir di muka bumi ini. Jadi penuhilah amanah akal ini dengan belajar, belajar dan belajar. Orang mukmin mesti dahagakan kecemerlangan dalam bidang keilmuan dan teknologi. Umat Islam adalah yang paling layak menerajui dunia.
  7. Berdakwah kepada manusia lain adalah tanggungjawab kita semua sebagai orang Islam. Sekiranya anda beriman kepada Allah, anda harus berusaha melaksanakan tugas mengajak orang lain ke jalan Allah dengan sedaya upaya anda. Islam bukanlah agama sendiri-sendiri, tapi Islam adalah agama yang mementingkan aspek komuniti, kemasyarakatan dan kesatuan. Bukankah lidi seberkas sukar untuk dipatahkan? Ajaklah diri sendiri dan orang lain ke arah kebaikan, tapi lakukan dengan lemah-lembut, berhikmah dan penuh dengan kesabaran. Cabaran berdakwah itu besar dan berat, tapi hasilnya cukup manis.
  8. Hari ini harus lebih baik dari semalam. Setiap hari harus ada tangga peningkatan yang kita daki, bertambah benih kebaikan yang kita semai dan bertambah banyak perhambaan diri kita kepada Allah. Kita harus berazam untuk berpegang teguh kepada prinsip ini.
  9. Penuhilah diri dengan penuh rasa rendah diri. Jangan sesekali lupa betapa banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, jadi apakah layak untuk kita merasakan diri kita hebat berbanding orang lain? Sedangkan jika bukan kerana pemberian Allah, di manakah kita berdiri sekarang ini? Sebab itu jangan sesekali kita merasa tinggi diri, sekalipun kita mempunyai ilmu yang banyak, kaya dengan harta, popular, mempunyai rupa paras yang baik dan lain-lain. Perasaan rendah diri itu harus dilatih sampai ia menjadi satu sikap yang automatik dalam diri kita. Pepatah melayu ada menyebut, “padi bila makin berisi, makin tunduk”. Takkan masuk syurga orang yang dalam hatinya ada kesombongan, jadi kita semua harus berwaspada.
  10. Syukurlah dengan nikmat, sabarlah dengan dugaan. Syukur dan sabar adalah dua nilai murni yang ditekankan oleh Islam. Jangan kita merasa bangga diri dengan pencapaian sendiri, sebaliknya bersyukurlah kerana itu satu kurniaan Allah. Demikian juga jika diuji dengan musibah, kepayahan atau kesedihan, bersabarlah banyak-banyak dan jangan sesekali berputus asa kerana Allah memang akan menguji hamba-hambaNya dalam kehidupan ini. Siapa yang kuat imannya akan berjaya sedangkan yang lemah akan kecundang. Elakkan membesar-besarkan kejayaan kita dan elakkanlah berkeluh-kesah akan nasib kita sebab kedua-dua tabiat ini menjejaskan nilai syukur dan sabar.

Demikianlah 10 peringatan ringkas. Semoga kita semua mendapat keredhaan Allah seterusnya memperoleh kejayaan dunia dan akhirat.

Muhasabah: Banyak lagi kerja rupanya…


Baru-baru ini saya cuba menyenaraikan dan meneliti segala jenis kewajiban dan tanggungjawab yang perlu saya tunaikan sebagai seorang muslim.

Tersentak juga saya.

Sebabnya sebelum ini, bila saya fikir-fikir sahaja kerja-kerja saya, seperti belajar, solat, dakwah dan sebagainya; nampak macam tidak banyak dan tuntutannya seperti biasa-biasa saja.

Tetapi pada suatu hari, hati saya dibuka oleh Allah untuk saya meneliti betul-betul hidup saya. Barulah saya sedar sebenarnya kerja itu bukan hanya setakat kerja, bahkan banyak daripadanya berpaut kuat dengan amanah-amanah besar yang saya perlu penuhi.

Bagi yang tidak jelas, saya berikan analogi. Sebelum bermusahabah, katakan saya ditugaskan membeli air di kedai, dan saya menganggap sekadar itu sahaja. Tapi bila diselidik (musahabah) rupa-rupanya air yang hendak dibeli itu adalah untuk orang yang hampir mati kehausan, jadi jika saya tidak cepat dan bersungguh-sungguh, orang itu boleh mati.

Harap anda faham maksud saya.

Contohnya, setelah diteliti betul-betul baru saya teringat bahawa pengajian saya belajar ini ditanggung oleh kerajaan, maka kewajiban saya kepada semua pembayar cukai ialah untuk belajar rajin-rajin agar dapat berjaya dengan cemerlang.

Tak lupa juga tanggungjawab untuk berbakti kepada ibu bapa yang telah memberikan segalanya untuk membesarkan saya dengan baik dan penuh kasih sayang. Jadi tanggungjawab kepada mereka sudah tentu dengan menjadi anak yang soleh dan berusaha menyenangkan hati mereka dari berbagai aspek, baik dari mendoakan mereka, dari segi hubungan hinggalah kepada kejayaan dalam hidup.

Kemudian pula amanah untuk menyebarkan Islam, baik kepada muslim mahupun non-muslim. Dakwah adalah dituntut atas diri setiap muslim, tetapi saya mendapati saya mungkin telah mengambilnya dengan agak ringan sebelum ini. Bagaimanakah nasib saya di akhirat kelak sekiranya jiran saya, atau kawan-kawan saya yang non-muslim menuntut daripada Allah akan kealpaan saya daripada berdakwah kepada mereka? Astaghfirullah. Tersentak lagi hati saya.

Paling utama, bila saya merasakan hati saya seolah-olah diketuk menyatakan Allah sedang memerhatikan dan mengetahui segala isi hati saya, malah bukankah segala amalan saya sedang dicatit? Maka zahirlah kepada saya bahawa amanah saya yang paling besar sekali merangkumi segala aspek yang saya nyatakan di atas tadi, iaitu untuk menjalankan tanggungjawab sebagai hambaNya dan khalifah di muka bumi. Saya wajib patuhi perintah Allah, melalui Quran dan Sunnah yang sahih.

Begitulah antara contoh-contoh apa yang datang kepada fikiran saya, dan banyak lagi sebenarnya.

Inilah apa yang saya cuba maksudkan. Muhasabah bukan sekadar hanya dengan duduk dan menilai diri begitu sahaja, tapi perlu melakukan pemikiran yang komprehensif, merangkumi aspek-aspek seperti tujuan kita dihidupkan, amanah-amanah yang kita sedang pegang, seterusnya menyedari betapa beratnya amanah tersebut dan sejauh mana kita telah berusaha melaksanakannya.

Dengan muhasabah sebegini, mungkin ada antara kita akan mendapati bahawa banyak betul kerja dan amanah yang perlu dipikul yang mana sebelum ini kita seperti ambil acuh tak acuh, ataupun terlupa langsung.

Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua untuk menjadi hamba-hambaNya yang taat agar dapat sentiasa berada dalam keredhaanNya. Amin.

Menepis Atheism: Bahaya Bertuhankan Sains (Part 2)


Respon yang diberikan dalam siri yang pertama menyebabkan saya terus ingin segera menyambung siri kedua. Ini adalah link ke bahagian satu (part 1) http://moojahid.blog.friendster.com/2008/02/menepis-atheism-bahaya-bertuhankan-sains-part-1/

Dalam bahagian satu telah dijelaskan sedikit pengenalan tentang definisi dan metodologi sains. Telah juga dijelaskan batasan sains yang pertama iaitu sains hanya mampu mengolah tentang kejadian yang berlaku pada masa sekarang sahaja. Kini saya akan menyambung topik ini.

Batasan-Batasan Sains

Kedua: Kajian sains hanya mampu mengolah kejadian di alam fizikal sahaja

Islam tidak meragui sains, malah menggalakkannya kerana kajian sains adalah satu kajian ilmiah dan berasaskan bukti.

Namun Islam mengajar penganutnya bahawa alam ini terdiri daripada dua jenis, iaitu alam fizikal dan alam ghaib.

Alam fizikal ialah alam yang mampu dihayati oleh deria manusia. Inilah ruang dimensi yang mana hukum-hukum sains berlangsung. Malah segala hukum sains pun adalah ketentuan-ketentuan Allah, dan ketentuanNya kekal tidak berubah melainkan jika Allah sendiri mengkehendaki.

Hukum sains adalah sunnatullah. Para saintis mungkin boleh sibuk mengolah dan menjelaskan apa itu hukum graviti, hukum Newton dan sebagainya, tapi mereka gagal menjelaskan mengapa hukum itu bertindak sebegitu. Mereka boleh merumuskan bahawa formula daya graviti sebagai F=mg, tapi mereka tidak dapat memberi sebab mengapa graviti mesti bertindak sedemikian rupa; mengapa tidak hukum graviti itu menolak ke atas daripada menarik? Dalam Islam jawapannya mudah sahaja, hukum itu bertindak menurut kehendak Allah, Dialah yang menjadikan alam ini bertindak sedemikian. Syukur kepada Allah yang mengizinkan alam fizikal ini dapat dikaji oleh kapasiti akal manusia, seterusnya dapat diaplikasikan untuk memberi manfaat kepada kita semua.

Sungguhpun peranan sains cukup besar dalam kajian alam fizikal, tapi sains tidak dapat menjelaskan hal-hal ghaib. Hal-hal ghaib merupakan hal yang ilmu mengenainya tidak mampu dicapai manusia, dan hanya diketahui Allah. Peristiwa alam kubur dan alam akhirat merupakan antara hal-hal ghaib yang telah dikhabarkan oleh Allah kepada manusia melalui perantaraan nabiNya. Tiada cara untuk kita mengkaji tentang alam ghaib, sains tidak dapat digunakan.

Para atheist menolak kewujudan Tuhan dan alam ghaib kerana bagi mereka segala yang tidak dapat dibuktikan sains adalah tidak ada. Mereka menganggap sains adalah sempurna dan mempunyai jawapan ke atas segalanya dalam hidup. Bagi mereka, sains adalah matlamat dan tujuan mereka hidup. Tapi dalam Islam, sains adalah alat (bukan matlamat) untuk kita mengkaji alam agar dapat meningkatkan ima dan taqwa kepada Allah selain dapat mengaplikasikan ilmu sains dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Para atheist berkata jika sesuatu itu tidak nampak, atau tidak dapat dibuktikan, maka itu tidak ada. Pandangan ini sudah tentu dapat dibidas. Lihatlah analogi ini: katakan kita pergi ke kawasan pendalaman di tengah-tengah Afrika, di mana masyarakat orang asli di situ tidak pernah pun melihat telefon. Kemudian kita katakan kepada mereka, “awak semua percaya tak kalau saya kata kita boleh berhubung dari jauh dengan menggunakan alat yang bernama telefon?”. Tentu mereka tidak percaya dan menganggap itu tidak logik, sebab mereka tidak mempunyai ilmu tentang adanya telefon. Tapi hakikatnya telefon itu memang ada, lalu setelah anda tunjukkan dan mendemonstrasikan telefon bimbit anda kepada mereka barulah mereka mahu percaya.

Cara orang atheist berfikir tak ubah seperti orang-orang asli ini, mereka menganggap kewujudan sesuatu benda itu hanya ada jika dapat dibuktikan dengan deria mereka. Mereka takkan percaya dengan kebenaran selagi mana mereka  belum melihatnya, sedangkan jika kita lihat dari contoh analogi di atas, kita dapati kebenaran itu tak semestinya hanya daripada sesuatu yang zahir. Tak semestinya jika kita tidak nampak sesuatu, hal itu tidak ada. Mereka mahu alam ghaib dibuktikan dengan sains, tapi ini adalah mustahil, lalu mereka menolak wujudnya alam ghaib tanpa sedikit pun mereka cuba memahami bahawa alam ghaib itu tidak mampu diterokai dengan sains.

Tentu mereka akan menyesal nanti, setelah mereka mati, mereka akan menghadapi alam kubur dan ketika itu baru mereka hendak percaya. Allah akan mempertontonkan kebenaran alam ghaib itu kepada mereka, sepertimana yang mereka tuntut dan meremeh-remehkan tentangnya semasa mereka hidup di dunia. Malangnya ketika di kubur dan di akhirat nanti, semuanya sudah terlambat untuk mereka.

Bersambung ke siri berikutnya.

Pengaruhi suasana sebelum suasana pengaruhi anda


Jika anda selalu mempunyai masalah cepat hilang semangat untuk beramal soleh, atau merasa lebih cenderung ke arah kelalaian daripada melakukan hal-hal yang berfaedah, mungkin anda perlu menilai semula suasana sekeliling anda dengan teliti.

Ya, semak suasana sekeliling dahulu sebelum anda semak diri sendiri.

Kita hidup di zaman yang penuh dengan dugaan. Kita lihat di kebanyakan tempat dan masa telah dipenuhi dengan pengaruh-pengaruh bahaya yang mampu mengancam iltizam semangat kita untuk patuh kepada Allah.

Sebab itu saya dengan penuh rendah hati berpendapat bahawa suasana sekeliling yang tidak soleh selalu menjadi sebab mengapa kita rasa sukar untuk beramal soleh dan meningkatkan kecenderungan hati untuk lebih sukakan kelalaian. Malah untuk segelintir golongan lain, suasana sekeliling bukan sahaja banyak membawa kepada kelalaian, bahkan kemungkaran.

Suasana yang baik adalah makanan untuk iman, dan suasana yang buruk adalah makanan untuk nafsu. Anda pilih yang mana satu anda hendak beri makan, iman atau nafsu?

Kawan-kawan kita, keadaan tempat tinggal dan media adalah tiga pengaruh kuat yang banyak membentuk suasana kehidupan kita hari ini. Perlulah kita mengubah mereka sebelum mereka mengubah kita.

Kawan-kawan. Rajinlah dampingi kawan-kawan yang soleh agar anda dapat tumpang semangat mereka untuk patuh kepada Allah. Pada masa yang sama kekuatan iman kita tidak mudah luntur jika kawan-kawan rapat kita adalah terdiri daripada mereka yang kuat semangat keislamannya. Tapi ingat bila kita asyik berdamping dengan kawan-kawan yang soleh, bukanlah saya memaksudkan kita harus putuskan ukhwah dengan kawan-kawan lain. Dakwah dan ukhwah dengan semua orang yang kita kenal mesti kita jaga, cuma pada masa yang sama kita tetap perlukan sokongan kuat untuk diri kita sendiri, dan sokongan ini boleh diperoleh jika kita berkawan baik dengan teman-teman yang soleh.

Tempat tinggal haruslah dipenuhi dengan hal-hal yang baik seperti buku-buku agama, ruang solat yang selesa dan sempurna dan kitab Al-Quran yang mudah dicapai untuk dibaca sekerap yang mungkin. Persekitaran perlu kemas, bersih dan tenang. Ahli keluarga atau teman serumah harus diajak agar sentiasa taat kepada Allah dan rajin beramal soleh. Begitu juga hiburan untuk ahli keluarga, haruslah kita pantau dan kita mesti bersikap memilih. Jangan sesekali biarkan elemen-elemen hiburan yang haram berlangsung di dalam rumah.

Media. Setiap hari boleh dikatakan majoriti manusia pada zaman moden ini menonton televisyen. Malangnya majoriti besar siaran televisyen banyak mencerminkan yang tidak baik daripada yang baik. Drama-drama, rancangan nyanyian dan realiti adalah antara contoh-contoh popular. Sebab itu kita harus tahu batas-batas kita dalam menonton televisyen, kita takut ia akan pengaruhi kita. Contohnya dalam sebuah drama ada mencerminkan kehidupan cinta pasangan yang belum kahwin, ini menyebabkan penonton-penonton drama tersebut  berisiko untuk secara beransur-ansur menganggap percintaan sebegini suatu yang lumrah dan kebiasaan, dan tidak ada apa-apa. Sedangkan dalam Islam hal ini memang jelas dilarang. Inilah antara teknik pengaruh secara halus yang cukup bahaya sebenarnya, mampu menyebabkan minda seseorang muslim terpesong tanpa disedari.

Lain-lain. Ini termasuklah bahan-bahan bacaan kita, aktiviti kita di internet, pekerjaan dan suasana tempat kerja, serta kekerapan kita dalam menghadiri majlis ilmu dan berdiskusi tentang agama. Semua ini memainkan peranan dalam membentuk suasana kehidupan di sekeliling kita.

Kesimpulannya, selagi mampu kita ubahlah suasana sekeliling agar ia jadi lebih Islamik dan kondusif khas untuk jiwa kita yang dahagakan iman dan taqwa. Bila suasana sekeliling sudah bercirikan keislaman, maka ia akan menjadi mangkin kepada amal soleh, menyebabkan kita menjadi lebih mudah untuk taat kepada Allah. Kehidupan sebagai seorang muslim sejati makin mudah diraih, dan dosa-dosa pula semakin mudah kita jauhi. Saya berharap hasilnya nanti kehidupan kita ini bakal menjadi kehidupan yang sejahtera, diberkati Allah dan berakhir dengan kebahagiaan kekal abadi di syurga Allah sana. Itulah doa saya untuk kita semua.

Pencegahan adalah lebih baik dari rawatan. Ubah suasana anda sebelum suasana mengubah anda.

Wallahu a’lam.

Stop worrying and start living?


Dale Carnegie was one of the top self-help gurus of the 20th century.

I managed to read some of his books and found out that he has brought up some interesting concepts of morality which we do not see much in our society today. Some of these include the attitude of appreciating others sincerely, the sweet feeling of doing good deeds, being patient and humble when dealing with difficult people and some others which -I think- do not contradict with the Islamic teachings of akhlaq.

Nevertheless as muslims we cannot agree with these concepts totally. Dale Carnegie was not a muslim, and the primary purpose for his teachings was mostly about self-satisfaction. However as muslims the primary reason for us to do good should always be about to please Allah, not ourselves, although the sense of self-satisfaction might come together when we do good deeds but this is unavoidable.

But, in overall, there is nothing wrong to learn from Carnegie or other western self-help authors; for as long as we always modify and integrate their self-help concepts with Tawheed, everything will be fine.

Dale Carnegie had also written a book entitled “Stop Worrying and Start Living”. Although the title of the book presents yet another interesting concept, but again I disagree.

Let me ask you, don’t you think worrying is good?

Perhaps with the exception of a few bunch of people, a sense of worry can actually motivate ourselves better in order to improve ourselves. If we don’t worry about anything at all, the motivation to do good will not be as strong.

For example, imagine yourself preparing for an exam. If you don’t worry that you might fail in the exam, you may not have enough motivation to study hard. In Islam we are also taught to be worried about the possibility of entering hellfire after we die, and this kind of worry help us to always improve our deeds while avoiding evil acts at the same time.

So it’s clear here, worrying is good, but not too much, of course.